Selasa, 29 Mei 2012

Model Pembelajaran Berbicara


Pendekatan Kontekstual Dengan Model Pembelajaran Bermain Peran dalam Pembelajaran Berbicara

I. Orientasi Model
I.1. Elaborasi Model
Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan untuk mencapai tujuan tertentu. Beberapa konsep dasar berbicara harus dipahami oleh pengajar sebelum mengajarkan berbicara kepada siswanya. Terdapat lima konsep, yakni: penyimak, pembicaraan, media, sarana, dan pembicara (Iskandarwassid, 2008).
Keberhasilan berbicara, dapat dilihat pertama kali pada penyimak atau pendengar. Cara yang digunakan adalah dengan menganalisis situasi dan kebutuhan, tingkat pendidikan, pendengar. Dengan cara ini akan menghindarkan dari kesalahan-kesalahan dalam berbicara.
Sebelum pembicaraan berlangsung, maka pembicara seharusnya mempersiapkan apa yang akan dibicarakan (Tarigan, 2008:25). Diantaranya:
1) Menentukan materi/topik
2) Menguasai materi
3) Memahami khalayak
4) Memahami situasi
5) Merumuskan tujuan yang jelas
Pada tingkat pemula, tujuan pembelajaran keterampilan berbicara meliputi: melafalkan bunyi-bunyi bahasa, menyampaikan informasi, menyatakan setuju atau tidak setuju, menjelaskan identitas diri, menceritakan kembali hasil simakan/bacaan, menyatakan ungkapan rasa hormat, dan bermain peran.
Untuk tingkat menengah, tujuan pembelajaran keterampilan berbicara dapat dirumuskan: menyampaikan informasi, berpartisipasi dalam percakapan, menjelaskan identitas diri, menceritakan kembali hasil simakan atau bacaan, melakuakan wawancara, bermain peran, menyampaikan gagasan dalam diskusi atau pidato.
Tingkat paling tinggi, dapat dirumuskan bahwa: menyampaikan informasi, berpartisipasi dalam percakapan, menjelaskan identitas diri, menceritakan kembali hasil simakan atau hasil bacaan, berpartisipasi dalam wawancara, bermain peran, dan menyampaikan gagasan.
Terdapat beberapa aktivitas yang mempermudah seorang siswa untuk belajar keterampilan berbicara, seperti mengubah topik, merespon atau menolak atau dapat dikenal dengan Awareness-Raising Activities. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan yakni:
1) Attention (memperhatikan)
2) Noticing (mengenali)
3) Understanding (memahami)
Strategi pembelajaran berbicara merujuk pada prinsip stimulus-respons, yakni memberi dan menerima informasi. Rancangan program pengajaran untuk mengembangkan keterampilan berbicara antara lain:
a) aktivitas mengembangkan keterampilan bicara secara umum
b) aktivitas mengembangkan bicara secara khusus untuk membentuk model diksi dan ucapan, dan mengurangi penggunaan bahas non-standard
c) aktivitas mengatasi masalah yang meminta perhatian khusus:
  • peserta didik menggunakan bahasa ibunya sangat dominan
  • peserta didik yang mengalami problema kejiwaan, pemalu dan tertutup
  • peserta didik yang menderita hambatan jasmani yang berhubungan dengan alat-alat bicaranya.
Program pengajaran keterampilan berbicara harus mampu memberikan kesempatan kepada setiap individu mempunyai tujuan yang dicita-citakan. tujuannya, meliputi:
1) kemudahan berbicara
2) kejelasan
3) bertanggung jawab
4) membentuk pendengaran yang kritis
5) membentuk kebiasaan
Pemilihan strategi atau gabungan metode dan teknik pembelajaran terutama didasarkan pada tujuan dan materi yang telah ditetapkan pada satuan-satuan kegiatan belajar. Dalam hal tersebut keterlibatan intelektual peserta didik dapat dilatih dalam kegiatan antara lain: bermain peran, berbagai bentuk diskusi, wawancara, bercerita, pidato, laporan lisan, membaca nyaring, merekam bicara, bermaian drama.
 
I.2 Tujuan Model Pembelajaran Bermain Peran dalam Pembelajaran Berbicara
Dalam silabus mata pelajaran Bahasa Indonesisa kelas XI tingkat SMU/MA terdapat kompentensi dasar melalui menulis, membaca, berbicara dan menyimak, karena keterampilan berbahasa didapat dari keterkaitan dan keselarasan empat komponen berbahasa tersebut. Berbicara merupakan salah satu standar kompetensi yang harus diajarkan dalam perlajaran Bahasa Indonesia.
Pada semester dua kelas XI tingkat SMU/MA dalam silabus pembelajaran terdapat satu Standar kompetensi tentang berbicara yaitu mengungkapkan wacana sastra dalam bentuk pementasan drama. Standar kompetensi tersebut terdiri dari beberapa kompetensi dasar yaitu:
  1. mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama
  2. menggunakan gerak-gerik, mimik dan intonasi sesuai dengan watak tokoh dalam pementasan drama.
Berdasarkan silabus tersebut dapat disusun suatu pendekatan belajar dan model pembelajaran yang menjadi satu kesatuan utuh untuk memaksimalkan pemahaman, kreatifitas, pontensi dan pengetahuan siswa terutama tentang pembelajaran berbicara.. Adapun yang digunakan adalah pendekatan Kontekstual dengan model pembelajaran bermain peran (role playing) dalam pembelajaran berbicara semester dua kelas XI di SMU/MA.
Pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Siregar dan Nara,2010:117).
Dengan pemahaman ini diharapkan hasil belajar lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran juga alamiah, siswa bekerja dan mengalami, Bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Dengan demikian, siswa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam konteks yang terbatas sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal dalam memecahkan masalah kehidupannya di lingkungan masyarakat.
Pendekatan kontekstual (contextual teaching learning) adalah juga suatu proses pembelajaran berupa learner-centered and learning in context. Konteks adalah sebuah keadaan yang mempengaruhi hehidupan siswa dalam pembelajarannya. Proses pembelajaran kontekstual tersusun oleh delapan komponen yaitu:
  1. Membangun hubungan untuk menemukan makna (relating)
  2. Belajar secara mandiri
  3. Melakukan sesuatu yang bermakna (experiencing)
  4. Kolaborasi (colaborating)
  5. Berpikir kreatif dan kritis ( applying)
  6. Mengembangkan potensi individu (transfering)
  7. Standar pencapaian yang tinggi
  8. Assesmen yang autentik.
Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran berbicara dapat lebih nyata dan aplikatif dengan ditunjang menggunakan model pembelajaran bermain peran.
Model pembelajaran bermain peran merupakan pembelajaran terakhir pada model pembelajaran berbicaraDengan demikian maka dikandung pengertian bahwa model pembelajaran ini sebagai tataran tertinggi dalam model pembelajaran Berbicara. Jika dalam model pembelajaran berbicara sebelumnya masih terdapat campur tangan guru, maka dalam Bermain Peran ini siswa lebih aktif ,inisiatif, spontanitas dan kreatif. Dalam praktiknya Bermain Peran ini menyerupai sandiwara atau drama, hanya saja dalam bentuk yang lebih kecil/sederhana. Maka peserta didik akan memperoleh peran dan teks dialog untuk ditampilkan di depan kelas nanti. Dengan pendekatan kontekstual siswa dapat memilih topik dan ekspresi sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari.


II. Model Mengajar
II.1. Sintaksis
Langkah-langkah pembelajaran Bahasa Indonesia dalam materi pelajaran berbicara dengan model bbermain peran adalah:
A. Pertemuan pertama
  1. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 orang.
  2. Kemudian kelompok-kelompok diberi tugas untuk membuat dialog atau naskah drama yang bersumber dari kehidupan sehari-hari atau lingkungan sekitar siswa.
  3. Siswa membuat naskah drma atau dialog singkat tersebut dan membagi peran pada masing-masing anggota kelompok.
  4. Guru memberikan tugas untuk pertemuan selanjutnya. Pertama, tugas kelompok yaitu menyempurnakan naskah dan latihan dialog.Kedua, melakukan observasi terhadapa cara berbicara sesuai peran yang didapatkan. Siswa diharapkan mampu mempelajari ekspresi dan bahasa non verbal tokoh dalam naskah.
B. Pertemuan kedua
  1. Siswa berada dalam kelompok yang telah ditentukan sebelumnya.
  2. Masing-masing kelompok mengemukakan hasil naskah dan observasinya secara singkat.
  3. Guru menerangkan hal-hal yang penting terkait kemampuan berbicara dalam mepresentasikan dan memerankan sebuah naskah atau dialog.
  4. Guru mulai mempersilahkan kepada kelompok yang terpilih untuk memampilkan naskah atau dialog yang telah dipilih.
  5. Penampilan juga dapat dilanjutkan pada pertemuan selanjutnya.
  6. Pebilaian selain dilakukan oleh guru juga dilakukan siswa dengan membagikan format penilaian (lafal,intonasi,ekspresi,penghayatan dan penampilan) dengan demikian siswa saling mengapresiasi dan belajra dengan temannya.
II.2. Sistem sosial.
Adapun indikator yang harus dicapai dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran bermain peran adalah:
  1. Siswa mampu menentukan topik yang berhubungan dengan kehidupan sendiri untuk bisa menulis cerita pendek.
  2. Siswa mengetahui topik atau gagasan-gasan yang menjadi bahan pembicaraan masyrakat atau orang sekitarnya.
  3. Siswa dilatih menulis dan mengembangkan naskah drama atau dialog singkat sebagai wujud pengamatan dan simakannya
  4. Siswa dilatih berbicara dalam latihan drama dan menghafalkan dialog sesuai dngan ekspresi dan bahasa non verbal pendukung komunikasi.
  5. Siswa mampu menampilkan dialog atau naskah drama dengan kriteria yang telah ditentukan.
  6. Siswa mampu mengapresiasi penampilan dan teknik dialog(bebicara) yang disampaikan temannya.
II.3. Prinsip reaksi
Untuk melakukan kegiatan belajar melalui pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran bermain peran seluruh siswa harus:
  1. mengamati topik atau gagasan yang ada dalam kehidupan danlingkungan sekitarnya.
  2. kelompok kelas dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 orang
  3. siswa harus mendiskusikan topik yang akan diangkat dalam pembuatan naskah atau dialog singkat.
  4. siswa menulis naskah atau dialog singkat.
  5. siswa melakukan observasi ringan untuk menunjang penghayatan dan memahamai cara berbicara pada peran.
  6. siswa melakukan presentasi terhadap naskah yang telah dibuat.
  7. siswa berlatih dan mempersiapkan diri untuk penampilan
  8. siswa menampilkan naskah drama atau dialog yang telah dibuat dan mengapresiasi penampilan temannya.
Sementara guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator dan mentor dalam memberikan tugas dan mengarahkan iswa agar siswa mampu memiliki pemahanan tentang pelajaran dari pengalaman sendiri. Selain itu guru juga berperan sebagai motivator dalam memaksimalkan potensi siswa dalam berkarya dan juga menyampaikan bahwa berbicara dapat mengekspersikan, menyampaikan dan menginformasikan sesuatu.

II.4. Sistem penunjang
Dalam kegiatan pembelajaran ini dapat digunakan beberapa sumber dan sarana belajar, seperti: buku teks dan penunjang Bahasa Indonesia, buku penunjang tentang naskah drama dan pementasan drama, artikel dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan tema dalam koran, majalah, maupun website. Dan sarana yang digunakan yaitu dapat melalui komputer dan internet, analisis, dan pengalaman dan pengamatan.

III. Dampak intruksional dan penyerta.
Dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia terutama pada standar kompetensi berbicara pendekatan belajar secara kontekstual dengan model bermain peran mampu membuat siswa:
  1. mengaitkan apa yang dipelajari di sekolah dengan pengalamannya sendiri ketika mencari ide,gagasan atau topik yang akan diangkat dalam naskah. Siswa akan menemukan sesuatu yang jauh lebih bermakna dibandingkan apabila informasi maupun ide tersebut diperoleh hanya dengan mendengar atau menerima saja.
  2. dengan belajar mandiri atau tugas mandiri secara kelompok dan individu dapat mengatasi perbedaan kecepatan belajar siswa yang sangat variatif. cara belajar yang berbeda, bakat, minat yang juga bermacam-macam hendaknya dihargai dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar mandiri sesuai kondisi masing-masing siswa.
  3. dengan kelompok maka dapat mendorong siswa untuk bekerjasama satu sama lain. Karena pada dasarnya setiap makhlik hidup membutuhkan makhluk hidup lainnya.
  4. pembelajaran ini hendaknya melatih siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dan juga memberikan kesempatan untuk mempraktikkannya dalam situasi yang nyata.
  5. karena tidak ada individu yang sama maka kegiatan penbelajaran dengan pendekatan kontekstual bisa mengidentifikasi potensi yang dimiliki setiap siswa serta memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkannya.
  6. ketika memberikan tugas dengan standar yang tinggi maka akan memacu siswa untuk berusaha keras dan mengeluarkan kemampuan serta potensi maksimalnya untuk menjadi yang terbaik.
  7. dan hasil kerja siswa juga tak cukup dinilai dengan tes semata, tetapi juga dengan uji pemahaman, dan mengapresiasi karya yang telah dibuat oleh siswa.
IV. Keunggulan dan Kekurangan

IV.1.Keungulan Model Pembelajaran Bermain Peran
Menurut Hamzah B.Uno (2010:26) Keberhasilan pembelajaran melaui bermain peran tergantung pada kualitas pemain peran yang diikuti dengan analisis terhadapnya. Di samping itu, tergantung pula pada persepsi siswa tentang peran yang diaminkan terhadap situasi yang nyata.
Joyce and weil (1996:92) The role playing process provides a live sample of human behaviour that serves as a vehicle for students to: (1)explore their feelings,(2) gain insight into their attitudes, values, and perceptions,(3) develop their problem-solving skills and attitudes,and (4) explore subject matter in varied ways. Model bermain peran dapat mengantarkan sisma untuk mampu mengenal perasaannya dan perasaan orang lain, dapat menyatukan dialog dan peranya pada sikap, nilai dan persepsi, membangun kemampuan pemecahan masalah, dan melaksanakan pembelajaran dengan cara yang lebih bervariasi.
Dengan model bermain peran siswa juga dapat meningkatkan kratifitas dan kepekaannya dalam bereskpresi terutama dalam berbicara.Siswa juga dapat memperoleh cara berprilaku baru untuk mengatasi masalah.

IV.2. Kekeurangan Model Pembelajaran Bermain Peran
Model pembalajarn bermain peran tak luput dari kekurangan dlam pelaksanaannya, diantaranya:
  1. keterbatasan waktu dalam melaksanakan pembelajaran
  2. banyaknya siswa dalam satu kelas
  3. kemampuan siswa yang bergam dalam memahami peran
  4. kemampuan menilai dan mengapresiasi yang masih rendah

V. Daftar pustaka

Budimansyah.Dasim,dkk.2009. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Bandung: PT. Genesindo
Joyce and Weil.1996.Models of Teaching.US: Allyn and Bacon
Siregar,Eveline,dkk.2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Penerbit Gahlia Indonesia.
Soemanto,Wasty.2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Uno,Hamzah B.2010.Model Pembelajaran menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar