Senin, 02 April 2012

KATA KERJA


KATA KERJA DALAM BAHASA INDONESIA


oleh:
Yessy Hermawati 41032121101051



A. Pendahuluan
Definisi kata dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Di antaranya ada tiga sudut pandang yang umum digunakan untuk mendifinisikan kata. Pertama, posisi kata secara gramatikal, kata dapat diartikan sebagai satuan gramatikal terkecil yang dapat terdiri dari satu atau lebih morfem yang menjadi unsur pembentuk suatu frasa atau kalimat.
Kedua, dari bahasa lisan atau fonem, kata dapat diartikan sebagai deretan bunyi yang memiliki arti yang diucapkan dalam satu kecapan. Ketiga, dari bahasa tulis, kata dapat diartikan sebagai deretan huruf yang memiliki arti yang penulisannya dalam kalimat dibatasi oleh spasi.
Dalam bahasa Indonesia ada pengelompokan kata dalam bentuk kelas kata. Para pakar bahasa pun mengelompokkan kelas kata berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. Beberapa pakar bahasa yang menyatakan teori tentang kelas kata antara lain: Gorys Keraf, Harimukti Kridalaksana, Hasan Alwi,dkk., dan lain sebagainya.
Gorys Keraf dalam (Putrayasa,2010:85) membagi kelas kata berdasarkan struktur morfologisnya. Struktur morfologis adalah bidang bentuk yang memberi ciri khusus terhadap kata-kata. Berdasarkan struktur morfologis Keraf membagi kelas kata menjadi empat kelas kata yakni, kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata tugas.
Menurut Harimukti Kridalaksana (1994, dalam Putrayasa, 2010:45) membagi kelas kata menjadi tiga belas kelas kata yaitu: verba, ajektiva, nomina, promina, numerilia, adverbia, interogativa, demonstrativa, artikula, preposisi, konjungsi, dan kategori fatis.
Berbeda dengan pakar sebelumnya, dalam buku Tata Bahasa baku Bahasa Indonesia, Alwi (1998) membagi kelas kata dalam lima kelas kata yakni kata benda (nomina), kata kerja (verba), kata sifat (ajektiva), kata keterangan adverbia, dan kata tugas. Sementara Arifin, Z. dan Junaiyah (2009:939) menerangkan kelas kata dalam empat kategori yaitu kategori verba, adjektiva, adverbia, dan nomina.
Kata kerja atau verba dalam bahasa Indonesia juga memiliki jenis-jenis dan ciri-ciri yang membedakannya dengan kelas kata lainnya. Makalah ini mencoba memaparkan tentang "Kata Kerja Dalam Bahasa Indonesia" berdasarkan teori Gorys Keraf dan pakar lainnya.

B. Pembahasan.
Secara umum kita mengenal kata kerja sebagai kata yang menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya. Jenis kata ini biasanya menjadi predikat dalam suatu frasa atau kalimat. Dalam buku Morfologi, Arifin dan Junaiyah (2009:93) menyatakan bahwa verba atau kata kerja dapat diketahui lewat prilaku semantis dan sintaksis serta bentuk morfologisnya. Pada umumnya verba atau kata kerja memiliki ciri sebagai berikut:
  1. Verba berfungsi sebagai predikat atau inti predikat kalimat , seperti: (a) Pagi-pagi sekali mereka telah berlari keliling lapangan. (b) kami sedang bermain bola. (c) Bom meledak di Kuta. Kata bermain, sedang berlari, dan meledak pada contoh kalimat berfungsi sebagai predikat; kata bermain pada sedang bermain merupakan inti predikat. Verba juga dapat berfungsi lain di luar predikat.
  2. Secara inheren, verba mengandung makna 'perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau bukan kualitas'.
  3. Verba yang bermakna keadaan tidak dapat diberi prefiks ter- untuk menyatakan makna 'paling'.
  4. Secara umum, verba tidak dapat bergabung dengan kata penunjuk kesangatan.
B.1. Kata Kerja versi Gorys Keraf
Menurut Gorys Keraf dalam (Putrayasa, 2010:87) sebuah kata dapat dikatakan kata kerja atau tidak haruslah melalui dua prosedur, yaitu (a) Melihat dari segi bentuk sebagai prosedur pencalonan. (b) Melihat dari segi kelompok kata (frasa) sebagai prosedur penentuan.
  1. Bentuk
    Semua kata yang mengandung imbuhan me-, ber-, -kan, di-, -i,-kan dicalonkan menjadi kata kerja. Akan tetapi, terdapat sejumlah kata kerja yang tidak mengandung unsur-unsur tersebut tetapi secara tradisional masuk ke dalam golongan kata kerja seperti tidur, bangun, datang, pergi, terbang, turun, naik, mandi makan, minum. Selain ciri-ciri bentuk seperti telah dibahas sebelumnya, kedua macam kata kerja tersebut mempunyai suatu kesamaan struktur dalam kelompok kata.
  2. Kelompok kata
    Semua kata yang tersebut sebelumnya, dalam segi kelompok kata mempunyai suatu kesamaan struktur, yaitu dapat diperluas dengan kelompok kata dengan + kata sifat, misalnya:
    Ria berjalan dengan cepat
    Handayani menyanyi dengan riang
    Anak itu tertidur dengan nyenyak
Berdasarkan kedua prosedur tersebut Keraf memberi batasan mengenai kata kerja yaitu segala macam kata yang dapat diperluas dengan kelompok kata dengan + kata sifat merupakan kata kerja.
Untuk membuktikan penerapan prosedur menentukan kata kerja Keraf dapat diuji dalam beberapa contoh berikut. Apakah kata jalan, berteriak, membaca, duduk, belajar,berkabung, termasuk dalam kata kerja? Dari enam kata tersebut , kata membaca, berteriak, belajar dan berkabung masuk dalam prosedur bentuk yang menjadikan kata tersebut calon kata kerja, karena kata tersebut mengandung imbuhan ber-,dan me-. Lalu dalam prosedur yang kedua , dari segi kelompok kata, keenam kata tersebut dapat diperluas dengan kelompok kata dengan + kata sifat misalnya:
jalan dengan lebih cepat
berteriak dengan lantang
membaca dengan ekspresif
duduk dengan tenang
belajar dengan tekun
berkabung dengan penuh duka cita
Maka, berdasarkan prosedur Gorys Keraf, keenam kata di atas dapat digolongkan dalam kata kerja. Dapat diamati bahwa kata kerja versi keraf bisa memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Dari segi bentuk dapat mengandung imbuhan me-, ber-, -kan, di-, -i. Ada juga yang tidak mengandung imbuhan.
  2. Kata yang mengandung imbuhan ataupun tidak dapat diperluas dengan kelompok kata dengan + kata sifat.

B.2. Kata Kerja Versi Harimurti Kridalaksana
Menurut Kridalaksana (1994) dalam (Putrayasa 2010:45) verba atau kata kerja adalah subkategori yang memiliki ciri dapat bergabung dengan partikel tidak, tetapi tidak dapat bergabung dengan partikel di, ke, dari, sangat, lebih, atau agak. Selain itu, verba juga dapat dicirikan oleh perluasan kata tersebut dengan rumus V + dengan kata sifat.
Harimukti Kridalaksana dapat mengklasifikasikan kata kerja berdasarkan bentuknya, banyaknya argumen, hubungan verba dan nomina, interaksi nomina dan pendampingnya, referensi argumennya, dan hubungan identifikasi antara argumen-argumennya.
  1. Dari bentuknya
    Verba dapat dibedakan menjadi: (i)verba dasar bebas yaitu verba yang berupa morfem dasar bebas seperti duduk, makan,mandi,dan lain-lain, (ii) verba turunan verba yang telang mengalami proses morfologis.
  2. Dari banyaknya argumen
    Verba dapat dibedakan menjadi: (i) verba intransitif yaitu verba yang menghindarkan objek atau verba yang tidak membutuhkan objek, (ii) verba transitif verba yang harus mendampingi objek.
  3. Dari hubungan verba dan nomina
    Verba dapat dibedakan menjadi Verba aktif yaitu verba yang subjeknya berperan sebagai pelaku. Verba pasif yaitu verba yang subjeknya sebagai penderita, sasaran atau hasil. Verba anti-aktif (ergatif )yaitu verba pasif yang tidak bisa berubah menjadi verba aktif. Verba anti-pasif yaitu verba aktif yang tidak dapat diganti menjadi verba pasif.
  4. Dari referensi argumennya
    Verba ini terdiri dari: (i) verba refleksif yaitu verba yang kedua argumennya mempunyai referen yang sama, (ii) Verba nonreflesif yaitu verba yang kedua argumenya mempunyai referen yang berlainan.
  5. Dilihat dari sudut hubungan identifikasi antara argumen-argumennya
    Verba dapat dibedakan menjadi: (i) verba kopulatif yaitu verba yang mempunyai potensi untuk ditanggalkan tanpa mengubah konstruksi predikatif yang bersangkutan, (ii)Verba ekuatif yaitu verba yang mengungkapkan ciri dari salah satu argumennya.

B.3. Kata kerja menurut Hasan Alwi, dkk.
Dalam (Putrayasa, 2010:71) Hasan alwi menyatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan. Ciri-ciri kata kerja atau verba dapat diketahui dengan mengamati (a) prilaku semantis, (b) prilaku sintaksis, (c) bentuk morfologisnya.
  1. Dari segi prilaku semantis, verba memiliki makna inheren yang terkandung didalamnya. Dalam hal ini verba dapat dibedakan menjadi verba perbuatan, apabila verba tersebut mampu menjawab pertanyaan 'apa yang dilakukan oleh subjek?'. Verba proses yaitu verba yang mampu menjawab pertanyaan 'apa yang terjadi pada subjek?'.
  2. Dari segi prilaku sintaksis
    Verba merupakan unsur yang sangat penting dalam kalimat karena verba berpengaruh besar terhadap unsur-unsur lain yang harus ada dalam kalimat. Perilaku sintaksis berkaitan erat dengan makna dan sifat ketransitifan verba.
    Dari segi sintaksisnya, ketransitifan verba ditentukan dua faktor yaitu (i) adanya nomina yang berdiri dibelakang verba yang berfungsi sebagai objek dalam kalimat aktif, (ii) kemungkinan objek tersebut berfungsi subjek dalam kalimat pasif. Dengan demikian pada dasarnya verba terdiri dari verba transitif dan tak transitif.
  3. Dari bentuk morfologisnya
    Pada dasarnya memiliki dua macam verba, (i) verba asal yaitu verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis. (ii) verba turunan verba yang harus atau dapat memakai afiks, bergantung pada tingkat keformalan bahasa atau pola sintaksisnya. Verba turunan dibagi menjadi tiga subkelompok, pertama verba yang dasarnya adalah dasar bebas (misalnya darat) tetapi memerlukan afiks agar dapat berfungsi sebagai verba. Kedua, verba yang dasarnya juga bebas juga dapat memiliki afiks. Ketiga, verba yang dasarnya terikat (temu) juga memerlukan afiks (bertemu).
B.4. Teori Kata Kerja Menurut Mansur Muslich
Dalam buku Garis-garis Besar Tata bahasa Baku Bahasa Indonesia, Mansur Muslich (2010:37) menyatakan bahwa verba atau kata kerja berbeda dengan kata lainnya, karena memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
  1. Berfungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat atau juga dapat berfungsi lain.
  2. Bermakna dasar perbuatan, proses, keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
  3. Khusus verba yang keadaan tak dapat diberi prefiks ter- yang bermakna paling.
Dari sifat-sifat verba di atas maka Mansur Muslich mengklasifikasikan verba berdasarkan dasar makna (prilaku semantis). Namun Ia juga mengklasifikasikan verba berdasarkan bentuk (bentuk morfologis). Berdasarkan bentuk verba dapat dibedakan menjadi (i) verba asal yaitu verba yang dapat berdiri sendiri seperti datang, mandi, tidur, dan lain-lain. (ii) Verba turunan yang dapat dibagi menjadi verba turunan afiks bebas, verba turunan dasar bebas, verba turunan dasar terikat, verba turunan reduplikasi, verba turunan majemuk.

B.5. Perbandingan Teori Kata Kerja Gorys Keraf dan Teori Pakar Lainnya.
Dari beberapa teori para ahli bahasa di atas dapat kita lihat sifat atau ciri kata kerja menurut masing-masing pakar. Ciri-ciri kategori kata kerja dapat dilihat dari segi bentuk, makna, fungsi, dan juga kelompok kata pendukungnya. Tata bahasa tradisional menentukan ciri setiap kategori berdasarkan arti. Untuk kata kerja tata bahasa tradisional menyatakan sebagai kata yang menyatakan perbuatan. Namun para ahli diatas telah beranjak dari pengertian tata bahasa tradisional, karena kategori kata kerja dapat ditentukan atas beberapa sifat atau ciri dari berbagai sudut pandang.
Gorys Keraf menyatakan sebuah kata adalah kata kerja melalui prosedur yang berbeda dengan para pakar lainnya. Ia membagi kelas kata berdasarkan struktur morfologisnya. Struktur morfologis adalah bidang bentuk yang memberi ciri khusus terhadap kata. Bidang bentuk tersebut meliputi kesamaan morfem yang membentuk kata-kata tersebut atau juga kesamaan ciri atau sifat dalam membentuk kelompok katanya. Untuk kata kerja kesamaan morfem yang menjadi syarat pencalonan kata tersebut sebagai kata kerja adalah kata yang mengandung imbuhan me-, ber-, di-, -kan, -i. Dan apabila ada kata yang tidak mengandung imbuhan, tetapi dapat diperluas dengan kelompok kata yang sama yaitu kata dengan + kata sifat maka kata tersebut digolongkan dalam kata kerja.
Keraf tidak melakukan prosedur penentuan kata kerja melalui sudut pandang sintaksis, semantis, bentuk yang lebih membahas kepada asal terbentuknya kata kerja tersebut. Sementara pakar-pakar lain seperti Hasan Alwi, dan Mansur Muslich bertolak dari sudut pandang tersebut. Selain itu mereka juga melihat dari makna, fungsi,dan posisi kata kerja serta kata yang mengikuti atau mendahului kata kerja.
Harimukti Kridalaksana memiliki persamaan dengan Keraf dalam membuat ciri sebuah kata kerja yaitu sebuah kata dapat dikatan kata kerja apabila dapat diperluas dengan kelompok kata yang sama yaitu dengan + kata sifat. Bahkan Harimukti lebih spesifik menyatakan ciri sebuah kata kerja dengan ciri bahawa kata kerja tidak dapat bergabung denga partikel di, ke, dari, sangat, lebih, dan agak. Selain itu kata kerja dapat bergabung dengan kata tidak.
Gorys keraf menentukan kata kerja hanya melalui dua prosedur tersebut. sementara Pakar lain mengklasifikasikan kata kerja atau verba juga berdasarkan pendekatan semantis, sintaksis, bentuk, dan fungsi.
Dari pemaparan di atas akhirnya dapat kita amati persamaan dan perbedaan teori kata kerja dari beberapa pakar. Persamaan teori kata kerja Gorys Keraf dan pakar lainnya adalah:
  1. Bila Tata Bahasa tradisional menentukan ciri kata kerja berdasarkan arti yaitu yang menyatakan perbuatan. Maka, para ahli di atas menentukan kategori kata kerja berdasarkan sifat, ciri-ciri, atau sudut pandang yang berbeda.
  2. Teori kata kerja Gorys Keraf dan teori kata kerja Harimurti Kridalaksana memiliki kesamaan yaitu kata kerja atau verba dapat diperluas dengan frasa dengan + kata sifat.
Perbedaan teori kata kerja Gorys Keraf dan pakar lainnya :
  1. Gorys Keraf menentukan sebuah kata termasuk dalam kategori kata kerja melalui prosedur pengujian (pencalonan dan penentuan), sementara pakar lain dengan menentukan ciri-ciri dan mengelompokannya.
  2. Gorys keraf menentukan kata kerja berdasarkan struktur morfologis, sementara pakar lain menentukan kata kerja berdasarkan pendekatan bentuk, sintaksis dan semantis.
  3. Pendekatan bentuk dan struktur morfologis digunakan Gorys Keraf sebagai proses pencalonan kata kerja. Sementara pakar lain menggunakan dasar pendekatan bentuk untuk mengklasifikasikan kata kerja tersebut berdasarkan bentuknya.

C. Simpulan
Kata kerja menurut pengertian tata bahasa tradisional adalah kata yang menyatakan perbuatan. Secara umum kita mengenal kata kerja sebagai kata yang menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya. Jenis kata ini biasanya menjadi predikat dalam suatu frasa atau kalimat.
Ada beberapa pakar yang membahas kelas kata berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. Kelas kata kerja juga memiliki kategori yang berbeda dalam menentukan kelasnya sesuai dengan para ahli bahasa yang mengemukakannya.
Gorys Keraf menentukan sebuah kata tergolong kata kerja berdasarkan struktur morfologisnya melalui dua prosedur yaitu pertama, melihat dari kesamaan bentuk, yaitu kata yang mengandung imbuhan me-, ber-, di-, -kan, -i, sebagai prosedur pencalonan kata kerja. kedua, melihat dari kelompok kata (frasa) yang sama dapat memperluas kata tersebut. Kelompok kata tersebut adalah kata dengan + kata sifat. Hal ini adalah penentuan suatu kata sebagai kata kerja.
Berbeda dengan pakar lainnya Gorys Keraf hanya melakukan prosedur berdasarkan struktur morfologis saja, sementara pakar lainnya mengkategorikan sebuah kata menjadi sebuah kata kerja berdasarkan prilaku semantis, prilaku sintaksis, bentuk morfologis, makna, dan fungsi sebuah kata. Sehingga para ahli seperti Hasan Alwi, Harimukti Kridalaksana, Mansur Muslich dapat membuat subkategori kata kerja berdasarkan sudut pandang sintaksi, semantis, bentuk, makna dan fungsi tersebut.
Namun dalam menentukan ciri kata kerja Harimukti Kridalaksan memiliki persamaan dengan Gorys Keraf yaitu sebuah kata kerja adalah kata yang dapat diperluas dengan kata dengan + kata sifat.


D. Daftar Pustaka
Alwi,Hasan,dkk.1998.Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka.
Arifin, Z. dan Junaiyah.2009. Morfologi Bentuk, Makna dan Fungsi. Jakarta: Grasindo.
Chaer,Abdul.2003.Seputar Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Putrayasa, Ida Bagus.2010.Kajian Morfologi.Bandung:Refika Aditama.
Muslich, Mansur.2010.Garis-Garis Besar Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Bandung:Refika Utama.
Muslich, Mansur.2010.Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta:Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar